Rabu, 30 November 2016

Membangun Budaya Kerja yang Unggul

Membangun Budaya Kerja yang Unggul



Persaingan di era globalisasi menuntut adanya budaya kerja yang bersifat lebih unggul dibanding yang telah berlangsung selama ini. Namun, membangun budaya kerja unggulan ini bukanlah perkara mudah. Budaya kerja lama yang sudah mengakar dalam sebuah perusahaan tak bisa mendadak begitu saja diganti karena akan menimbulkan sekelumit permasalahan lain. Lalu bagaimana sebaiknya membangun budaya kerja unggul ini?

Pertama, budaya perusahaan tidak bisa diganti, juga tidak mungkin dibentuk secara tiba-tia tanpa menimbulkan gejolak yang besar di semua lapisan organisasi. Karena itu, upaya untuk menggeser budaya lama (shifting culture) lebih baik dilakukan dengan memperkenalkan budaya kerja yang baru secara bertahap sampai mencapai suatu critical mass tertentu, dalam arti diterima oleh mayoritas anggota organisasi.

Kedua, manajemen puncak bertanggung jawab penuh atas tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai yang membentuk budaya perusahaan. Karenanya tidak akan ada pergeseran budaya perusahaan jika manajemen puncak tidak menunjukkan komitmen dan konsistensi dalam proses semacam ini.

Ketiga, cara terbaik untuk mengajarkan nilai-nilai budaya adalah dengan menjadi role model (contoh panutan) sebab nilai-nilai budaya tidak bisa diajarkan dengan kata-kata semata. Pimpinan harus memberikan contoh dan bertindak secara konsisten dalam praktik kerja sehari-hari. Dan perlu diingat, mengajarkan nilai-nilai tidak bisa didelegasikan kepada orang lain.

Keempat, untuk membangun budaya perusahaan yang unggul, proses perekrutan mesti mendapatkan perhatian serius dari manajemen puncak. Seleksi yang ketat tidak saja menyangkut soal indeks prestasi kumulatik (IPK) dan kompetensi teknis calon karyawan, tetapi juga kecocokan sikap dan perilaku calon karyawan dengan budaya perusahaan.

Kelima, ketika perusahaan mengalami pertumbuhan yang luar biasa dan transformasi organisasi diperlukan maka visioning process akan membantu perusahaan untuk mengenali nilai-nilai inti yang menjadi watak dan cira khas organisasi.

Keenam, budaya perusahaan yang kuat dapat menjadi keunggulan kompepetitif yang sulit ditandingi oleh pesaing karena berakar pada nilai-nilai yang unik dalam tubuh organisasi itu sendiri. (sumber)


Baca Tips Bisnis Manajemen Lainnya

Selasa, 29 November 2016

Bekerja Lebih Efisien dengan Mengurangi Rapat

Bekerja Lebih Efisien dengan Mengurangi Rapat



Para pemimpin dalam sebagian besar perusahaan modern akan berpendapat bahwa mereka sendiri wajib untuk menghadiri sejumlah besar rapat. Para pihak yang diundang dalam rapat merasa mereka mendapatkan perhatian dari pemimpin dan sebuah rute langsung menuju tindakan pelaksanaan jika diperlukan. Terlalu banyak rapat menghabiskan waktu yang dimiliki pemimpin, yang akan menghalaunya dari isu-isu penting.

John dan Forrest Mars, anak Forrest Mars Sr., menjalankan perusahaan Mars, Inc. sebagai sebuah bisnis yang cukup terbuka dan transparan. Gaji yang ditawarkan lebih tinggi dari perusahaan pesaing lainnya tetapi syaratnya ialah kesetaraan. Setiap orang harus naik pesawat kelas ekonomi jika bepergian dan melakukan pekerjaan sepele sendiri. Tidak ada kamar mandi khusus eksekutif atau tempat parkir khusus yang tidak bisa ditempati kendaraan lain. Rapat hanya diadakan seperlunya; lebih jarang, lebih pendek dan lebih efisien.

Alan Leighton, mantan CEO Asda, menghabiskan waktunya saat awal karir di Mars UK dan membawa budaya rapat efisien ini bersamanya. Rapat internal di Asda sering dilakukan dengan berdiri untuk mendorong orang tidak berlama-lama. Leighton berpendapat bahwa ini juga akan membuat jumlah rapat yang harus dihadiri pemimpin menjadi lebih sedikit.

“Tidak menghabiskan waktu dengan mengadakan rapat secara konvensional memmberikan saya lebih banyak waktu untuk bekerja dengan lebih produktif, seperti menemui konsumen dan berbicara dengan operator. Triknya adalah dengan mengefektifkan rapat yang benar-benar Anda anggap penting. Saya sangat sadar bahwa saya terus menerus dalam tekanan waktu. Penting bagi saya untuk hanya melakukan hal-hal yang memang benar-benar bermanfaat dan menghabiskan waktu untuk menyelesaikan hal yang penting saja. Jika saya tidak mengatur waktu saya secara efektif saya tidak akan bisa menjalankan perusahaan dengan baik dan saya akan kelelahan dan tidak bersemangat. Saya tidak memerlukan rapat-rapat yang tidak perlu.”

Menemui klien dan pelanggan penting secara langsung masih menjadi prioritas utama dalam waktu seorang pemimpin yang bisa membutuhkan banyak waktu untuk melakukan perjalanan. Don Birch, mitra pengelolaan China Opportunities Ltd, berbicara mengenai masa depan rapat virtual.

“Tidak ada yang bisa mengganti pentingnya menemui pelanggan atau kolega secara langsung, nilai dan fungsionalitas rapat yang diadakan secara jarak jauh  telah meningkat secara signifikan akhir-akhir ini. Layanan kelas tinggi memberikan kehadiran yang seolah-olah luar biasa nyata dan banyak layanan jasa Internet berbiaya rendah memungkinkan rapat jarak jauh menjadi mudah dan sederhana. Panggilan konferensi, panggilan suara antarmuka, video, presentasi interaktif dan teks bisa dilakukan jauh lebih mudah. Meskipun betul orang lebih memilih kehadiran nyata seseorang, fasilitas rapat virtual ini bisa berarti bahwa beberapa perjalanan bisa dilakukan di dunia maya daripada di atas pesawat terbang.”

Tegaslah dalam menentukan rapat mana yang harus dihadiri dan pantas mendapatkan waktu Anda. Pastikan bahwa rapat dilaksanakan dengan baik dan orang-orang telah melaksanakan pekerjaan rumah yang diwajibkan. Jika topik rapat sudah selesai dibicarakan atau rapat itu telah melampaui batas waktu, segera akhiri rapat. Pemimpin harus memastikan bahwa urusan yang penting telah dibahas dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Selalu tanyakan apakah perlu untuk mengundang banyak personel senior dalam rapat secara bersamaan. Kirimkan email berisi detil hasil rapat ke orang-orang yang tidak hadir agar mereka mengetahui kabar terbaru. Saat menemui klien di luar kantor, pertimbangkan teknologi "rapat cerdas." (sumber)


Baca Tips Bisnis Manajemen Lainnya

Jumat, 25 November 2016

4 Langkah Berkantor Tanpa Kertas

4 Langkah Berkantor Tanpa Kertas



Tidak mungkin untuk meninggalkan kertas dalam keseharian Anda? Mungkin saja jika Anda bertekad untuk memberikan kontribusi positif terhadap pelestarian bumi ini.

Mengapa harus bersusah payah menekan penggunaan kertas? Betul bahwa kertas dengan mudah didapatkan sekarang. Tetapi menggunakan kertas secara berlebihan akan membebani lingkungan karena berarti akan ada lebih banyak pohon yang harus ditebang.

Mari kita telaah beberapa manfaat yang bisa didapatkan jika bisnis Anda menerapkan manajemen yang minim kertas. Akan ada sejumlah dana yang bisa disisihkan dari penghematan kertas karena kantor yang penggunaan kertasnya lebih sedikit secara otomatis juga akan menghabiskan biaya pembelian toner, perawatan mesin cetak, atau mesin fax. Kertas menghabiskan banyak sekali ruang dan membutuhkan pendokumentasian yang baik dan konsisten agar tidak membingungkan. Kantor yang lebih sedikit menggunakan kertas juga meningkatkan tingkat produktivitas secara umum. Bagaimana mungkin? Dengan lebih sedikit kertas, kantor akan lebih rapi dan keruwetan juga bisa ditekan. Ruang  untuk penyimpanan kertas bisa digunakan untuk tujuan lain yang lebih produktif. Dengan berbagi secara digital, dokumen dan file bisa diakses oleh siapa saja yang diperbolehkan, tanpa mengenal waktu dan tempat.

Berikut adalah 4 strategi untuk menjalankan strategi berkantor dengan lebih sedikit kertas.

1. Jangan terlalu mudah untuk mencetak semua file atau dokumen. Ini adalah respon yang biasa kita lakukan saat kita menginginkan sesuatu yang nyata untuk dipegang. Tentu ada pengecualian untuk dokumen perjanjian yang penting dan sebagainya. Namun, versi cetak tentu tidak bisa dijadikan jaminan sebagai arsip yang senantiasa valid. Dengan mencetak dokumen, risiko terbakar, kena air, dan pencurian akan muncul.

2. Gunakan dengan efektif/ maksimalkan software dan peralatan elektronik yang diperuntukkan bagi kantor yang minim kertas. Dari permintaan pemeliharaan hingga permintaan tagihan pembayaran, banyak sekali tugas manajemen properti yang mendasar yang bisa dilaksanakan dengan lebih efektif dan dikelola dengan lebih hemat biaya tanpa harus menghambur-hamburkan kertas.
 

3. Tetap terorganisir. Hanya karena file-file Anda tidak bisa dipegang secara kasat mata, tidak berarti Anda tidak perlu menerapkan sebuah sistem pengaturan dokumen dan file yang baik dan sistematis. Inilah waktu terbaik untuk memikirkan tentang strategi jangka panjang perusahaan yang memungkinkan Anda untuk bisa mengakses secara efisien atau berbagi dokumen dan file dalam sebuah alat penyimpan data yang praktis dan ringkas seperti keping cakram keras dan flash drive.

4. Berinvestasilah dengan membeli alat pemindai (scanner) yang bermutu tinggi dan sistem backup dan penyimpanan file yang baik dan tahan lama. Sebuah mesin pemindai akan membantu Anda mengubah sistem administrasi dan manajemen yang berbasis kertas menjadi sistem digital. Ia juga akan membantu Anda untuk mengendalikan jumlah kertas yang masuk ke kantor. Penyimpanan file dan data backup memastikan bahwa informasi Anda selalu bisa diakses dalam bentuk digital. Berpikirlah bahwa tidak akan ada lagi potongan kertas berserakan atau laci dokumen yang membingungkan dan kacau. (sumber)

Kamis, 24 November 2016

Membuat Pendelegasian Berhasil

Membuat Pendelegasian Berhasil



Semua pemimpin memiliki kecenderungan untuk berasumsi bahwa mereka harus secara pribadi menemukan solusi untuk tiap masalah. Sementara pemimpin akan selalu bertanggung jawab untuk setiap hasilnya, mereka harus mendelegasikan proses yang mencapai hasil. Pendelegasian yang sukses ialah suatu ketrampilan yang penting.

Sisi lain pendelegasian ialah dihilangkannya kewenangan untuk membuat keputusan dari kolega dalam rangka mengatur agar tidak terulang kembali kesalahan sebelumnya. Ini tidak akan membuahkan hasil dan mulai akan mengikis kemampuan perusahaan untuk berpikir bagi dirinya sendiri.

Pendelegasian yang berhasil ialah sebuah keahlian yang hebat: orang yang melaksanakan suatu tugas harus mengerti secara jelas hal apa yang dibutuhkan dari diri mereka dan hingga kapan, bagaimana tugas mereka sesuai dengan visi keseluruhan organisasi dan parameter apa yang harus dipatuhi. Mereka harus merasa bertanggung jawab terhadap tugas mereka dan sekaligus termotivasi untuk melaksanakannya. Lee Iacocca, Presiden dan CEO Perusahaan Chrysler AS di tahun 1980-an, mengenang saat belajar tentang pendelegasian: “Anda tidak tahu bagaimana mendelegasikan,” kata bos Iacocca kala itu.

“Sekarang jangan salah paham. Anda adalah orang terbaik yang saya pernah temui. Mungkin Anda bahkan sebaik dua orang digabungkan menjadi satu. Namun meski begitu, itu hanya dua orang saja. Anda punya seratus orang yang bekerja untuk Anda sekarang, apa yang terjadi saat Anda memiliki 10 ribu orang?”

Baca Tips Bisnis Manajemen Lainnya





Mengenai itu, Iacocca berkomentar: “Ia mengajarkan pada saya untuk berhenti melakukan pekerjaan semua orang. Dan ia mengajari saya bagaimana memberikan tujuan pada orang lain-dan bagaimana memotivasi mereka untuk meraihnya. Saya selalu berpikir bahwa seorang manajer telah meraih banyak prestasi saat ia mampu memotivasi seseorang selain dirinya. Jika berhubungan dengan bagaimana menjalankan sebuah usaha, motivasi adalah segalanya.”

John Harvey-Jones, mantan pemimpin perusahaan kimia ICI, menyatakan sebuah poin tersirat mengenai kecenderungan perusahaan untuk mengatur agar kesalahan-kesalahan fatal tidak terulang kembali yang mengakibatkan dicabutnya kebebasan bertindak dari eksekutif.

“Sebuah kesalahan bisnis dilakukan dan kesalahan tersebut dianggap akan dihindari jika seseorang pada posisi yang lebih tinggi dalam sebuah perusahaan mengetahui hal tersebut atau telah melakukan intervensi. Sebuah kekuasaan yang telah didelegasikan sebelumnya bisa dilucuti, biasanya dengan cara yang kecil, dengan sebuah instruksi bahwa dalam kasus seperti itu masalahnya akan diteruskan ke atasan. Tentu saja kasus yang sama persis tidak pernah terjadi atau jika memang terjadi, hal itu terjadi secara tidak diketahui sebagai pengulangan kesalahan yang telah lewat. Maka dari itu, Anda mendapatkan sebuah kerumitan instruksi birokrasi yang semakin membingungkan yang ingin mengatur untuk serangkaian peristiwa tanpa akhir yang tidak mungkin terjadi namun sudah terjadi di masa lalu.

Para pemimpin harus mendelegasikan secara terampil kepada manajernya dan menginspirasi mereka untuk memotivasi timnya. Melucuti kewenangan yang dimiliki manajer untuk mencegah terulangnya kesalahan yang sama tidak mungkin berhasil. Situasi di masa datang tidak pernah sama persis terulang layaknya di masa lalu dan pemimpin tidak lebih baik ditempatkan untuk menghindari kesalahan daripada tim senior mereka. Mengambil tanggung jawab orang lain menciptakan sebuah keadaan di mana tim mencoba untuk menghindari pelanggaran aturan daripada mencoba meraih tujuan. (sumber)

Senin, 21 November 2016

Mengenal Arus Kas

Mengenal Arus Kas



Istilah arus kas sudah terlalu sering didengar dalam setiap kali perbincangan yang berbau bisnis. Mulai dari mereka yang bisnis di pinggir jalan, dagang eceran, asongan hingga mereka yang bisnisnya dikendalikan dari gedung-gedung pencakar langit yang mentereng selalu bicara soal arus kas. Apapun bisnisnya, arus kas kuncinya. Lantas, apa yang disebut dengan arus kas?

Arus kas bisa dibilang istilah keren dalam dunia bisnis. Apapun jenis bisnisnya, Anda tidak mungkin lepas dari masalah arus kas.

Begitu Anda mulai bicara soal bisnis, hampir tidak mungkin Anda tidak bicara arus kas. Ia sangat strategis, memegang peranan vital dalam aktifitas atau operasional perusahaan. Bahkan di rumah tangga bahkan tingkat individu sekalipun, masalah arus kas tidak luput dari bahan perbincangan.

Di level individu misalnya. Saat kalender sudah menunjukkan tanggal tua, banyak orang yang mengeluh kantongnya tipis, cekak, seret, atau berbagai istilah lain yang menggambarkan betapa uang yang dipegang di tangan sudah tinggal sedikit, sementara pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan tidak bisa dihentikan.

Orang-orang yang seperti ini memiliki masalah dalam pengelola arus kas pribadinya atau arus kas-nya. Orang yang pintar mengatur arus kas ia selalu berhitung kapan uang harus keluar dan untuk apa pengeluaran dilakukan.

Jika kebutuhan bisa ditunda, maka ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli kebutuhan itu saat ini. Dengan begitu, arus kas-nya selalu terjaga dan kebutuhan utama bisa terpenuhi.

Penambahan pengeluaran hanya dilakukan jika ada penambahan pendapatan, sehingga antara pengeluaran dan pendapatan selalu terjaga dalam kondisi yang stabil atau sehat.

Nah, kira-kira pola pengelolaan keuangan seperti itu juga dan pasti diterapkan dalam rumah tangga, perusahaan, atau berbagai organisasi yang memperhatikan kontinuitas atau kesinambungan. Bagi perusahaan, apalagi yang sudah berstatus perusahaan publik, arus kas sangat penting.

Begitu pentingnya arus kas, seorang bisnisman mengibaratkan arus kas adalah raja dalam perusahaan, bukan CEO atau board of directors ataupun board of commissioners. Alasannya sederhana, arus kas-lah yang menentukan jalannya perusahaan, hidup mati perusahaan, bukan CEO, direksi dan atau komisaris.

Jika tidak ada arus kas, direksi tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sepintar apapun CEO atau direksi, dan secanggih apapun perencanaan dan ekspansi yang akan dilakukan, jika tidak didukung arus kas yang sehat maka semua itu tidak ada artinya.

Karena itu, dalam kaitan dengan publikasi laporan keuangan emiten 2010 yang berakhir pada 31 Maret lalu, sebaiknya perhatian investor atau pelaku pasar jangan cuma tertuju ke masalah klasik seperti neraca keuangan dan laporan laba rugi.

Dua hal itu memang penting dalam laporan keuangan, tapi hal yang juga sangat penting diperhatikan adalah masalah laporan arus kas. Arus kas adalah bagian yang tidak boleh dilewatkan.

Mengapa? Kesalahan yang sering terjadi adalah adanya anggapan atau asumsi bahwa jika pendapatan dan laba naik atau meningkat bagus, performance perusahaan juga ikut bersinar. Asumsi seperti ini terkadang suka menjebak pemikiran banyak orang.

Sebab, meningkatnya pendapatan dan laba tidak selalu menunjukkan kondisi arus kas yang bagus. Ada perusahaan yang dari sisi neraca dan laba rugi bagus, ternyata arus kas-nya jeblok, kering kerontang.

Arus kas ibarat energi bagi sebuah perusahaan. Semakin kecil energi yang tersimpan berarti semakin terbatas daya gerak perusahaan tersebut. Selanjutnya bisa dibayangkan, apa yang bisa dilakukan oleh sebuah perusahaan yang energinya terbatas? Mau belanja modal tidak bisa, mau ini dan itu juga tidak mampu.

Jika kondisi arus kas tidak dikelola dengan baik, perusahaan seperti ini tinggal menghitung hari. Nah, Anda tentu tidak ingin membeli saham perusahaan seperti ini bukan? Karena itu dalam analisa laporan keuangan, jangan lupa simak arus kas perusahaan. (sumber)

Baca Tips Bisnis Manajemen Lainnya

Kamis, 17 November 2016

Cara Mudah Buat Profil Perusahaan

Cara Mudah Buat Profil Perusahaan



Sebuah profil perusahaan memiliki arti penting dalam pertumbuhan bisnis Anda. Profil perusahaan menerangkan tujuan dan tonggak perkembangan yang dicapai oleh perusahaan Anda hingga sekarang. Profil perusahaan merupakan sebuah alat untuk menunjukkan kinerja perusahaan dan menarik lebih banyak investor, pemilik usaha lain, calon pegawai, dan pelanggan untuk berhubungan dengan perusahaan Anda. Sebuah profil perusahaan yang ditampilkan dalam sebuah brosur harus mampu menampilkan kesan indah dan penuh warna namun tidak meninggalkan impresi profesional. Informasi yang ada harus terorganisir dengan sistematis dan detil serta menyebutkan tema yang berbeda atau dimuat dalam laman web terpisah di situs resmi perusahaan.

Bagaimana membuat profil perusahaan yang baik? Ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk menyusun sebuah profil perusahaan sendiri.

Penggunaan profil perusahaan

Sebuah profi perusahaan penting artinya dalam pertumbuhan perusahaan Anda. Tujuan utama menyusun profil perusahaan ialah untuk mencapai cara baru yang penting untuk menyokong pertumbuhan perusahaan.  Profil perusahaan bisa digunakan untuk mengarahkan para investor menuju perusahaan Anda, terutama para investor yang hendak berinvestasi di sektor yang berhubungan erat dengan perusahaan Anda, pelanggan baru untuk meningkatkan pertumbuhan usaha atau pegawai potensial baru untuk melejitkan perusahaan. Saat Anda membuat profil perusahaan dan mengirimkannya ke para investor, ia akan memberikan sebuah pandangan umum terhadap bidang-bidang tertentu yang dianggap relevan dengan minat mereka dalam perusahaan Anda.

Isi profil perusahaan
Terdapat beberapa elemen dasar yang harus ada dalam profil perusahaan. Anda bisa menyusun profil yang berbeda untuk ditunjukkan kepada kelompok orang yang berbeda, seperti investor. Jenis profil perusahaan ini hanya akan memuat informasi tentang peluang investasi di perusahaan dan tidak akan memuat banyak informasi tentang bagian lain seperti karyawan atau pelanggan. Di sisi lain, Anda bisa memiliki pilihan untuk membuat satu profil saja yang memuat informasi tentang semua bagian dalam perusahaan Anda. Profil semacam itu akan memuat bagian-bagian informasi yang penting dan relevan bagi sekelompok orang tertentu. Ini bisa jadi sebuah alternatif yang lebih baik karena akan memberikan pandangan menyeluruh tentang prinsip perusahaan dan persyaratan serta ketentuannya.

Penyajian
Penyajian merupakan elemen penting dalam profil perusahaan. Sebuah profilseharusnya didesain oleh desainer profesional. Jika profil perusahaan Anda didesain di brosur, kemudian bisa diterbitkan di atas kertas berkualitas tinggi. Jika Anda membuat situs profil perusahaan, Anda sebaiknya menyewa jasa seorang desainer web profesional.

Panjang profil
Tidak ada patokan panjang yang harus dipatuhi dalam pembuatan profil perusahaan. Semuanya tergantung pada jumlah informasi yang hendak Anda berikan mengenai bagian-bagian berbeda dalam usaha Anda. Anda sebaiknya memberikan informasi sebanyak yang Anda bisa. Sebuah profil perusahaan tidak seharusnya terlalu panjang atau terlalu pendek. Namun, sebuah profil perusahaan yang baik setidaknya sepanjang 10 hingga 12 halaman.

Kesimpulannya, itulah semua hal dasar yang bisa Anda ketahui tentang bagaimana membuat profil perusahaan. Menyusun sebuah profil perusahaan itu sederhana dan mudah terutama bagi Anda yang sudah berkecimpung cukup lama dalam dunia bisnis. Ingat juga selalu bahwa profil perusahaan semestinya diperbarui secara berkala dan Anda harus menambahkan prestasi baru ke dalam profil Anda. (sumber)


Baca Tips Bisnis Manajemen Lainnya di Ayopreneur

Selasa, 15 November 2016

Goal Setting or Problem Solving?

Goal Setting or Problem Solving?



Sebuah visi bersifat besar dan jangka panjang, sebuah gambaran keadaan di masa yang akan datang yang ada di benak pemilik atau pimpinan tertinggi perusahaan.

Tanpa kedua aspek tersebut maka dapat dipastikan itu bukanlah sebuah visi. Jangka panjang biasanya mencakup puluhan tahun yang akan datang. Visi bisa datangnya mendadak seperti kilat, namun bisa juga merupakan pergumulan bertahun-tahun. Dalam banyak hal visi juga merupakan ilham atau pewahyuan dari Tuhan jika dan terutama yang menyangkut orang banyak, masyarakat, bahkan bangsa dan negara. Sebuah perjalanan perusahaan dari mulai kecil, kemudian menjadi menengah dan besar tingkat konglomerasi, pasti dilandasi dengan atau oleh visi yang diterima pemilik atau pimpinan perusahaan.

Visi menjadi semacam tujuan atau destinasi akhir yang terbayang-bayang dalam benak pemilik atau pimpinan perusahaan. Visi ini harus dibagi kepada orang-orang yang ada di perusahaan pada tingkat yang lebih bawah, agar mereka memiliki tujuan yang sama. Kemudian dibuatlah strategi bagaimana mencapai visi tersebut. Strategi jangka pendek, yang biasanya dijabarkan dan disebut action plan, dan juga jangka menengah dan jangka panjang. Dan untuk memastikan bahwa terjadi kemajuan dalam perjalanan perusahaan ditetapkanlah sebuah goal atau tujuan. Goal inilah yang akhirnya menjadi pegangan dan tolok ukur baik bagi atasan dalam mengukur keberhasilan anak buah, maupun anak buah dalam meraih prestasi.

Dalam praktiknya kebanyakan kita luput untuk memperhatikan, dalam menyusun strategi hanya didasari pemikiran sukses, tanpa penghalang, tanpa masalah. Tidak salah untuk bersikap positif dan optimistis, namun yang terjadi adalah bahwa setelah berjalan beberapa lama, ternyata kemajuan yang dicapai sangat lambat dan jauh dibawah atau meleset dari sasaran.Mengapa? Karena ternyata hari demi hari yang terjadi adalah bahwa para pelaku harus berjuang dalam menghadapi, menanggulangi, memecahkan dan menyelesaikan masalah yang datang silih berganti. Visi dan goal adalah urusan esok hari, sedangkan problem adalah urusan hari ini yang jika tidak diselesaikan atau ditanggulangi akan semakin melebar dan tidak mungkin ditanggulangi.

Dalam bukunya, "Stop Setting Goals," Bob Biehl (1995) seorang konsultan manajemen, membahas hal ini. Menurutnya ada perbedaan kepentingan dan keinginan. Atasan lebih suka mengerjakan dan menetapkan goal bagi bawahannya dan tidak mau tahu, atau pura-pura tidak tahu, apapun yang menjadi problem bagi bawahannya. No matter what, I want you to reach this goal. Sebaliknya bagi bawahan, goal menjadi semacam ganjalan di ulu hati yang tiap hari menusuk-nusuk membuat mules dan mual.

Mereka lebih suka jika atasannya lebih menaruh perhatian dan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Seperti biasa, sulit bagi bawahan untuk mengatur atasan, sebaliknya atasan akan mengalami kesulitan ketika ia tidak mau tahu dengan kesulitan yang dihadapi atasannya. Oleh karena itulah Bob Biehl menganjurkan agar pertama, dalam goal-setting melibatkan bawahan, setidaknya memberikan penjelasan apa dan mengapa perlu menetapkan goal tersebut.

Porsi dan tekanan sesi problem solving harus cukup banyak atau lama yang membuat bawahan merasa bahwa atasan mau tahu dan memperhatikan problem yang mereka (sebagai bawahan) hadapi dan merasa dibekali sehingga ketika problem muncul mereka kira-kira sudah tahu bagaimana cara menanggulanginya.

Dengan begitu mereka merasa ada beban untuk meraih goal, sekalipun tanpa “pecut” dari atasan. Stop setting goals and start problem-solving to reach and exceed your goal!

*) Eliezer H Hardjo, Phd, Anggota Dewan Juri ReBi & Institute of Certified Professional Managers (ICPM) (sumber)


Baca Tips Bisnis Manajemen Lainnya di Ayopreneur